Apa ini iank nm’na shbt?????Di dunia ney GaK ad IaNka nm’na ShBt CuZ cMuA’nA BULSHIT!!!!!kata’na ShBt t pap bukti’na??????mngpa c pnyesln i2 clalu d blkng?????mngapa Qu G mW dNgRnD Ap kTa Ka”K SpPu Qu????
emMaNK BnEr APA kTa V3 LoCh Di Dunia NeY g da iAnK nM’nA sHbT!!!!!!cUz sHbT i2 GAK AKAND PERNAH NYAKITIND SHBATNYA NDIRI,GAK AKAND PERNAH MELAMPIASKAN KESALAHANNYA PDA SAHABATNYA NDIRI,SELALU NGERTIIN SAHABATNYA,SELALU ADA DI SAAT SENANG ATAUPUN SEDIH,DLL……TP di dunia ney g ad iank kyg g2!!!!!AaAaAaAaAaAaAaAa…….SUCK!!!!!!!EmANk G dA iAnK bIsA nGerTiiN Qu.SeMuA’nA just bisa’na nyalahin qu tanpa tau apa mzlh’na!!!!!!!!!!!HUFT…..
“qu ingint mrh melampias qand tpi qu hax sendiri di cni….”
“INGINT QU TNJUKKAN PDA CIAPA SJA IANK AD BAHWA HTI QU KECEWA”
“BUAD SOME1 IANK ADA D SANA JANGANT PERNAH PERMAINTKAN COW/CEW CUZ NTAR AMU KENA KARMA’NA!!!!! THEY G KAND KYK GNI LOCH AMU G CRI MZLH MA MEREKA!!!!!
“NOW ALL IS BULSHIT THEY JUST SPEAK WITHOUT PROOF!!!!!”
“INGAT TUHAN ITU ADIL”
“GAK SELAMANYA KAMU ITU BENAR”
“GAK SELAMANYA SEMUA KESALAHAN HRUST KAMU LAMPIASKAN PADA ORANG LAENT”…….
BY:DESI .L.S.
Tur pramusim Manchester United (MU) di Jakarta diperkirakan menelan biaya tidak kurang dari Rp. 40 miliar. Dana sebesar itu digunakan untuk match fee, promosi, serta set up pertandingan. Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Bidang Bisnis dan Marketing PSSI Herman Chaniago.
Semua pasti tahu nilai jual MU sangat tinggi. Kami harus membayar match fee yang mencapai sebelas digit. Angka tersebut sangat besar bila dibandingkan dengan biaya yang dibutuhkan untuk mendatangkan Belanda atau tim lainnya. MU juga datang full team,” jelas Herman.
Harga tiket VVIP mencapai Rp. 2,5 juta dengan jumlah hanya 500 lembar. Tiket termurah dijual dengan harga Rp. 100 ribu, dengan total tiket yang dijual berjumlah 65 ribu lembar.
Gelora Bung Karno = Old Trafford
PSSI konon berencana “menyulap” tribun VVIP Gelora Bung Karno menjadi mirip seperti royal box Stadion Old Trafford, kandang Manchester United.
“Kami yakin investasi Rp40 miliar akan kembali mengingat tingginya animo masyarakat. Saat ini sudah banyak yang pesan tiket, meski akan dijual mulai pekan ketiga April,” ujar Herman.
Bukan untuk Timnas
Hanya saja, kedatangan MU ke Indonesia tersebut tidak akan banyak berarti bagi tim nasional Indonesia yang akan menghadapi Kuwait pada lanjutan kualifikasi Piala Asia 2011. Pasalnya, Ryan Giggs dkk hanya akan menghadapi Indonesia All Star yang dipilih masyarakat melalui SMS.
Pelatih timnas Benny Dollo mengakui, kebijakan tersebut hanya menguntungkan dari sisi bisnis, tapi tidak bagi timnas.
“Sekarang tinggal mau menekankan unsur bisnis atau mendahulukan kepentingan timnas. Pertandingan itu sangat bagus bagi pemain timnas, terutama buat menambah wawasan,” ujar mantan pelatih Arema itu.
Mentari pagi membangunkanku yang tertidur pulas di balik selimut tebal. Kelembutan sinarnya memancar hingga sudut kamar tidurku. Hawa dingin mulai merasuk ke dalam tulang-tulang rusukku. Tubuhku terasa kaku semua. Entah apa yang terjadi dengan tidurku semalam. Mungkin aku kemarin tidur dengan posisi yang salah. Kedua bola mata ini juga terasa berat ‘tuk dibuka
Jarum jam menunjukkan pukul 06.00 pagi. Oh, betapa kagetnya aku. Tiba-tiba saja aku jatuh dari kasur dan bruk…bruk… Terdengar suara jerit tangisku.
”Aduh… aduh…. sakit,” rintihku kesakitan karena jatuh dari tempat tidur. Ibu langsung datang dan membawaku ke atas tempat tidur.
”Emangnya ada apa, Putri Kecilku, kok pagi-pagi sudah nangis,” tanya ibuku dengan penuh kasih sayang sambil membelai rambutku yang panjang dan lembut itu.
”Aku baik – baik saja kok, Bu. Ibu jangan khawatir ya,” kataku meyakinkan hati ibuku agar tidak sedih.
Dan aku tersadar kalau hari ini bukan hari yang biasa bagiku. Hari ini aku harus berangkat ke kota pahlawan untuk menunaikan tugas baruku yaitu kuliah. Berjuta perasaan mendera jiwaku. Senang karena telah masuk ke jenjang yang lebih tinggi setelah lulus dari SMA dan sedih karena harus kuliah di tempat yang lumayan jauh dan harus berpisah dengan Ibu untuk beberapa waktu meskipun tak lama. Kebetulan baru kali ini aku terpisah jauh dari orang tuaku. Aku terharu karena memang aku dapat masuk kuliah melalui PMDK beasiswa. Ibuku sangat bangga padaku.
Aku segera lari ke kamar mandi dan bersiap-siap untuk barangkat ke Surabaya. Senyum kesedihan terpancar di raut wajah cantik ibuku saat kuucapkan kata – kata perpisahan.
”Bu, Putri berangkat dulu ya,” kataku sambil mencium tangan lembut ibuku dengan penuh kasih sayang. Lalu keningku pun dapat ciuman manis ibuku.
”Hati-hati ya Putri Kecilku. Ibu doakan semoga kamu mendapat kemudahan dalam menuntut ilmu. Ibu tidak bisa memberikan apa-apa. Ibu cuma bisa mendoakan kamu. Jangan lupa makan dan jaga diri baik-baik di sana.”
Dengan pelukan yang hangat kurasakan kesedihan yang teramat dalam pada diri ibuku. Namun apa boleh buat. Aku harus tetap berangkat demi cita-cita yang selama ini aku impikan. Berat hati aku melangkahkan kakiku keluar rumah sambil berpamitan pada ibuku. Jerit tangis hatiku merintih-rintih. Tapi aku berusaha sekuat hati menerima semua ini dengan penuh ketegaran.
Tiba-tiba aku teringat puisi yang aku buat kemarin malam. Dengan penuh cucuran air mata, kumainkan tanganku. Kugoreskan sedikit demi sedikit tinta yang ada di penaku. Kuukir kata demi kata sampai menjadi untaian kata.
Perpisahan ini adalah lukaLuka yang menusuk kalbuKepahitan batin …..Sesaknya napas …..Menjadi manis dengan hadirnya kenangan
Perpisahan ini adalah lukaBiarlah semua mengalirHanya air mata manisYang mampu menenangkanJiwa yang terguncang”
Aku adalah Nicita Putri Ramadhani, seorang gadis desa yang merantau ke kota besar demi cita – cita yang luhur. Akhirnya namaku tercatat sebagai mahasiswa perguruan tinggi negeri di kota pahlawan. Selama ini aku hanya bisa berangan-angan untuk bisa kuliah di kota metropolitan itu. Aku sempat kaget mengetahui kenyataan bahwa aku bisa meneruskan sekolah. Karena aku tahu siapa aku ini. Keluargaku pasti tidak akan mampu membiayai kuliah yang mahalnya selangit itu. Tapi aku bersyukur berkat dorongan teman dan guruku aku dapat mewujudkan mimpiku. Aku tidak percaya kalau kerja kerasku selama ini untuk mendapatkan beasiswa tidak sia-sia. Berhari-hari ku memohon petunjuk Yang Maha Kuasa agar dimudahkan jalanku untuk mewujudkan mimpi itu. Di lain hati aku sedih karena ayahku tidak berada disampingku untuk memberikan motivasi. Tapi aku berjanji pada diriku untuk berusaha sebaik mungkin agar tidak mengecewakan Ayah dan Ibu. Aku ingin menjadi kebanggaan bagi keluargaku dan bisa membahagiakan ibuku.
***
Lima jam sudah kutempuh jarak rumahku menuju kota pahlawan ini. Sepanjang perjalanan kulihat suasana luar. Banyak pohon-pohon menari-nari tertiup angin yang sepoi – sepoi. Mereka bergoyang-goyang penuh dengan kegembiraan. Dalam bus aku hanya duduk terpaku sambil melihat sekeliling.
”Mau ke mana, Mbak?” sapa salah satu penumpang padaku. Setelah beberapa menit aku tersadar dari lamunan.
”Saya mau ke Surabaya?” kataku dengan nada ketakutan.
Aku belum pernah naik bus sejauh itu sendirian. Makanya aku takut saat orang yang duduk di sebelahku menyapaku. Lalu perbincangan itu pun berlangsung sampai bus yang aku tumpangi tiba di terminal akhir.
Akhirnya jam satu siang saat terik matahari tepat berada di atas kepala bus sampai di terminal Bungurasih.
”Panas sekali sih,” keluhku dalam hati.”Ternyata benar kata orang kalau Surabaya itu panas.”
Aku berjalan mencari bus kota yang nantinya akan membawaku ke kos. Sebelum ke sini temanku menawari aku kos-kosan. Jadi, aku tidak perlu bolak-balik kesana kemari mencari kos-kosan sendiri sehingga aku bisa menghemat biaya transport.
”Wow, besar sekali kota ini,” kataku dalam hati ketika pertama kali melihatnya.
Aku seakan tidak percaya dengan semua ini. Surabaya memang kota metropolitan. Aku melihat sekeliling jalan yang penuh dengan pabrik dan hilir mudik kendaraan yang memadati kota. Selama ini aku belum pernah melihat suasana seperti ini. Dari dulu aku hidup di desa terpencil yang jauh dari keramaian kota. Aku seakan-akan menjadi orang terasing di sini. Aku tidak punya sanak saudara disini. Tapi aku tetap bertekad untuk menaklukkan kota ini demi meraih cita – cita yang selama ini aku impikan. Hati kecilku berkata, ”Apakah aku bisa betah ya disini?”
Aku takut dengan suasana kota yang padat dengan keramaian. Aku berusaha bertahan di sini sampai aku menyelesaikan sekolahku nanti. Tapi ada kesan yang tidak mengenakkan membekas di benakku. Ketika kulihat polusi udara yang membuat napasku sesak. Aku langsung batuk. Aku memang agak alergi dengan yang namanya polusi.
***Keesokan harinya, suara ayam membangunkan tidur pulasku. Aku melihat keluar kamar. Kulihat langit yang cerah nan biru menyapaku dengan penuh kehangatan. Aku segera mandi dan berangkat ke kampus.
“Masuk jam berapa, Put?” tanya Lia, teman sekamarku.
”Aku masuk pagi. Soalnya nanti mau ada acara penyambutan Maba (Mahasiswa Baru) di jurusan,” kataku dengan penuh semangat.
Dalam batin aku berkata, ”Aku ingin memulai lembaran hidup baru. Semoga aku tidak salah melangkah menjalani hari – hariku disini. Amin.”
Aku jalani masa – masa awal kuliahku dengan penuh semangat menggelora yang bisa merubah hidupku menjadi orang yang lebih berarti bagi orang lain.
”He, anak baru ya?” tanya orang yang ada di belakangku.
Aku langsung menoleh dan astaga aku langsung terdiam terpaku membisu tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun dari mulutku. Aku melihat ada makhluk yang tampan berdiri di depanku.
”Ini cumi (cuma mimpi) bukan ya?” kataku dalam hati.
”Eh….Iy….Iya….Aku memang anak baru,” kataku dengan terbata – bata dan jantungku pun berdebar – debar seperti digoncang gempa bumi saja.
Dan aku pun langsung tersadar bahwa aku tak boleh larut dalam kesenangan semata selama berada di sini. Aku harus bisa mewujudkan impian orang tuaku. Aku bertekad untuk membahagiakan mereka dengan sepenuh hati yang tulus. Tanpa ridho dan kerja keras mereka dari mereka aku yakin aku tidak akan bisa seperti sekarang ini.
”Kamu siapa ya? Aku kok jarang sekali melihatmu di kampus ini.”
”Kenalkan aku Rama. Aku adalah seniormu.”
“Ma…Maaf….Maaf, Kak. Aku tidak tahu.”
“Sudahlah. Gak pa pa kok. Kamu dari mana?” tanyanya dengan senyum manis mengembang di pipinya dan wajah imutnya semakin menambah rasa kagumku padanya. Ditambah lagi rambut keritingnya yang terlihat bergelombang bak ombak di lautan lepas yang tertiup angin.
”Oh, kenalkan Kak, aku Putri.” Dengan ragu – ragu aku berjabat tangan dengan Rama tapi tangan kami tidak bersentuhan karena aku tahu kalau itu tidak diperbolehkan dalam Islam karena kami bukan mahram. Aku meneruskan perkenalanku dengannya. ”Aku mahasiswa baru disini. Aku datang dari desa. Aku ingin melanjutkan studiku di sini karena aku senang sekali dengan dunia teknik terutama komputer,” kataku dengan nada yang masih canggung karena aku belum mengenalnya dengan baik.
Perbincangan pun terus bergulir hingga menghabiskan makanan dan minuman yang tadi pagi aku bawa dari kos dengan tujuan untuk menghemat uang jajan. Dan suara adzan ashar pun berkumandang dengan merdunya di telinga hingga membuat hati yang mendengarnya terasa sejuk dengan alunan suara muadzin itu. Perbincangan pun akhirnya kuakhiri karena hari sudah sore. Aku mesti pulang ke kos dan belajar untuk menyiapkan hari esok yang lebih bersemangat dan lebih menyenangkan daripada hari ini.
”Kak, aku pulang dulu ya. Lain kali kita lanjutkan perbincangannya. Makasih ya, sudah mau menemani aku ngobrol di sini sehingga aku banyak tahu tentang kampus ini, ” kataku untuk mengakhiri perbincangan yang telah lama bergulir ini dengan senyum manis yang terpancar.
”Lain kali kita ngobrol lagi ya, Put. Aku senang bisa ngobrol denganmu sehingga aku tahu tentang makna hidup ini, ” kata Rama dengan nada yang tegas dan senyuman manis yang selalu mengembang di pipi imutnya dan matanya yang terlihat sipit seperti orang Cina.
***
Aku merasa bahagia berada di sini. Aku menemukan sebuah cita – cita dan cinta yang selama ini sulit sekali hinggap dalam benak hidupku. Hari – hari indah aku isi dengan semangat yang penuh dengan cinta. Aku dikelilingi oleh orang – orang yang senantiasa menyayangiku dan mau menjagaku dengan sepenuh hati mampu mengorbankan jiwa dan raganya. Aku berusaha sekuat tenaga untuk menjadi yang terbaik demi cita – cita dadan tekadku yang membara bagai nyala api yang takkan pernah padam. Aku ingin menuntut ilmu setinggi – tingginya. Seperti kata pepatah, Tuntutlah ilmu setinggi langit dan carilah ilmu itu sampai ke negeri Cina. Aku akan berusaha untuk menggapai mimpi – mimpi yang selama hanya menjadi angan – angan semata. Aku terus berusaha untuk menjadi sebuah lilin kecil yang senantiasa menerangi gelapnya malam walaupun lilin itu tak akan bertahan lama. Tetapi lilin itu terus memberikan cahayanya yang indah bagi semua orang sampai dia padam. Aku ingin menjadi orang yang berguna bagi kehidupan ini. Aku harus bisa menorehkan sejarah yang tak kan terlupakan. Pengalaman akan tetap menjadi guru yang terbaik. Itulah yang memberi aku semangat untuk terus maju pantang mundur.
Aku berdiri di depan jendela menikmati indahnya langit yang bertaburan dengan bintang – bintang malam. Langit yang gelap akhirnya terlihat bercahaya disana dengan senyum cerianya. Untuk sementara sinar matahari yang panas menghilang sekejap digantikan indahnya rembulan yang bersinar terang. Semua ketakutan yang menyelinap dalam relung hatiku tiba – tiba pudar digantikan oleh senyum kebahagiaan yang terpancar. Aku pun tersenyum seraya berkata, ”Hari esok kan penuh dengan suka cita. Fajar kan menjemputku dengan senyuman manisnya. Raihlah cita dan gapai cinta di depan mata. Semangat !!!” kataku sambil menggenggam tanganku yang kecil mungil itu.
Setelah itu aku pun mengambil penaku dan kutulis seuntaian kata di atas buku yang sudah terlihat lusuh itu. Aku mainkan penaku. Terdengar ketukan – ketukan pena yang menambah ramainya malam yang sepi dan udara yang tak begitu hangat menyelinap masuk membuat tubuhku menggigil kedinginan.
Hari ini adalah kehidupanDalam sekejap melahirkan suka citaKemarin adalah sebuah mimpi dan hari esok adalah sebuah bayanganJalani hari ini dengan senyum dan semangat untuk hidup lebih baikBiarlah mimpi itu menjadi kenanganDan bayangan hari esok menjadi harapan dan kenyataan
“Aku benci Victoria!” teriakku keras-keras setelah menutup pintu kamar. Fuih, untung kamar ini kedap suara. Kalau tidak, wartawan koran lokal Batam itu yang sedang mewawancarai kakak di ruang tamu, malah bisa pulang dengan membawa berita yang tidak-tidak lagi! Ah, biar bagaimanapun kesalnya aku terhadap kakakku itu, aku tetap tidak mau keluarga kami malu. Bukan hanya Victoria yang akan malu, aku tentunya juga tidak mau kalau mama dan papa juga malu. Begitu juga aku yang tidak mau jika harus ikut-ikutan malu karena ulahku sendiri. Apalagi kalau namaku juga jadi buruk karena itu
Tiba-tiba mataku tertuju ke arah sebuah foto dua orang cewek yang sedang tersenyum manis. Di foto yang terpajang di kamarku itu, ada aku dengan topi terbalik berpose sembari mengerucutkan bibir. Persis gaya Korean Girl yang sekarang masih menjadi tren pose untuk berfoto anak muda. Sedangkan cewek lain di foto itu dengan rambutnya yang seperti lurus berponi Cleopatra, sedang tersenyum sembari memerlihatkan deretan gigi rapihnya. Itulah kakakku, Victoria.
Melihat keakuran kami berdua, sebetulnya cukup membuat banyak tetangga menjadi iri kepada orangtuaku. Kata mereka, kedua putri orangtuaku itu tingkahnya sama manisnya, baik dan rukun tidak pernah bertengkar.
Namun ujung-ujungnya selalu… “Apalagi ibu itu punya anak seperti Victoria. Duh… benar-benar membuat kami jadi iri deh! Sudah cantik, pintar, anaknya baik, prestasinya banyak lagi. Ya ampun Jeng… dulu pas hamil ngidam apa sih? Biar anak dalam perutku juga bisa kayak Victoria deh…” celoteh Bu Anis beberapa waktu lalu. Tetanggaku itu memang sedang hamil lima bulan.
Ih, tapi apa nggak terbalik tuh?! Perasaan kalau orang sedang hamil dan benci sama seseorang, baru deh anaknya nanti kayak orang yang dibencinya. Berarti… Hahaha… Bu Anis anaknya nggak bakal mirip sama Kak Victoria dong?!
Ah ya, begitulah kondisinya. Semua-semua pasti awalnya memuji kami berdua demi melihat apa yang kami miliki. Tapi ujung-ujungnya, selalu Kak Victoria yang lebih banyak mendapat sorotan pujian.
Terkadang kalau sedang merenungi, aku cukup sedih dan menyesal juga. Kenapa dulu Mama dan Papa memberi nama orang yang akhirnya sekarang menjadi kakakku itu dengan nama Victoria? Dan kenapa juga sih aku dulu juga tidak diberi nama dengan sebuah nama yang juga punya arti ‘besar’? Misalnya Gloria, Vici, atau Diva begitu? Uh, pokoknya aku menyesal sekali. Kenapa aku harus mendapat nama Angela. Sudah begitu kalau arti namaku itu memang berarti seorang dewi, kenapa juga nasib dan peruntunganku pas-pasan melulu?!
Memang, mama dan papa tidak pernah membanding-bandingkan kami berdua. Tapi, orang lainlah yang kebanyakan selalu usil melakukan itu. Seperti kebiasaan guru-guruku di sekolah misalnya!
“Ya ampun Angela… kenapa sih nilai pelajaranmu hampir selalu mendekati parah? Kalau kakakmu si Victoria dulu ketika aku ajar, kayaknya nggak pernah tuh nilainya seperti ini? Nilai dia selalu bagus bahkan selalu tertinggi di sekolah. Ah, mana mana pula ulah anak ini?! omel Bu Marta dengan logat khasnya.
Oke, oke deh kalau sekedar dimarahi saja aku sih terima-terima saja. Tapi kalau urusannya di dalam kelas, dilihat dan didengar orang satu kelas, ya ampun… ya pasti aku jadi malu banget dong! Apa kata Dio?
Dan kacaunya, ternyata maluku di depan Dio, cowok sekelas yang aku taksir waktu itu bertambah dengan rasa dongkol. Apalagi kalau lagi-lagu bukan karena ada hubungannya dengan kakakku, Victoria!
Begini ceritanya, suatu ketika tanpa ada angin segar di tengah panas terik matahari di siang bolong, si Dio minta izin buat main ke rumahku sore harinya. Hah? Secara seorang Dio, cowok yang sedang aku taksir mati-matian, ingin main ke rumahku? Masa iya mau aku tolak?!
Ya akhirnya jadilah hari itu seketika menjadi hari yang rasanya akan menjadi hari paling indah buatku. Tapi, ternyata ada lagi ujung yang membuat aku kembali menjadi merasa sebal. Pertama-tama sih, aku dan Dio waktu itu asik bercerita ini itu di beranda. Hehehe, lebih tepatnya aku sih yang paling banyak cerita!
Namun lambat laun, aku pun mulai membaca jika ada tingkah laku Dio yang agak terasa janggal. Sebentar-sebentar, ia mencoba mencuri-curi pandang sambil melirik ke arah dalam rumah. Lalu jika diajak bicara atau cerita, ia jadi mulai sering tidak menyambung dengan apa yang aku obrolkan.
Akhirnya, gelagat yang mulai aku baca itu benar juga adanya dengan pertanyaan, “Angela, kakakmu si Victoria itu lagi ke mana ya?”
Aku mengerutkan alis. “Dia lagi fashion show ke Kuala Lumpur. Ada yang penting banget ya? Ntar deh aku sampaikan ke dianya.”
“Iya, bilangin deh ya ada salam dari aku. Terus… aku titip ini ya ke dia,” ujar Dio sambil menyerahkan sebuah bingkisan kado berwarna kuning, warna kesukaan Kak Victoria.
Satu, dua, tiga. Aku mencoba mengerjap-erjapkan mataku sambil mencoba mencerna yang sedang terjadi. Jadi, ceritanya Dio ke rumahku ini cuma ingin bertemu Kak Victoria? Jadi, aku cuma dijadikan batu lompatan kesempatan saja nih buat Dio agar bisa ketemu Kak Victoria? Jadi, ceritanya Dio yang kelas dua SMP ini sedang naksir kakakku yang kelas tiga SMA? Whoa…!!!
Rasanya seketika langsung mati otak dan hatiku. Dasar cowok oediphus complex! Masa iya ada cowok naksir sama cewek yang lebih tua empat tahun?
Dan rasa nggak mengenakkan itu makin memuncak waktu aku tahu ternyata isi kado dari Dio untuk Kak Victoria itu berisi syal yang begitu lama aku idam-idamkan.
“Lho Angela, ini kan syal yang kamu inginkan sudah sejak lama?” Kak Victoria yang malah terkejut kegirangan. “Jadi, buat adekku yang manis saja deh ya…” lanjutnya sambil melilitkan syal pemberian Dio di leherku.
Syal yang memang begitu aku idam-idamkan, dari seseorang yang sedang aku cintai itu justru malah membuat leherku seperti terasa tercekik. Okelah, aku memang suka dengan syal itu. Okelah, ini memang dari Dio, cowok yang sedang aku taksir. Tapi kalau itu seharusnya bukan buat aku, dan apalagi dari seorang Dio yang masih seumuran denganku tapi naksir kakakku, lebih baik ENGGAK!
Dan aku putuskan sejak itu enggak juga deh buat naksir Dio. Huh, lebih baik mundur deh dari barisan fans clubnya Dio di sekolah kalau sudah tahu ceritanya malah jadi seperti itu! Kalau saingannya anak seumuranku di sekolah sih, oke-oke saja. Tapi kalau yang dipilih itu adalah kakakku sendiri yang umurnya sudah lebih tua? Fuih…! Lebih baik mencari cowok normal lain deh yang bisa ditaksir!
Waktu itu aku tidak tahu apakah seharusnya aku harus kesal atau menangis sejadi-jadinya. Kenapa sih, seorang Dio harus naksir ke kakakku? Apalagi kakakku malah menunjukkan sikap baik hatinya dengan memberikan syal itu kepadaku. Yah, akhirnya perasaan campur aduk antara kesal dan irilah yang kemudian muncul. Aku jadi benci dengan kakakku yang seharusnya lebih pantas menyandang nama Angela. Karena sesungguhnya, ialah yang berhati bening dan justru tidak bisa aku miliki!
Sebetulnya penderitaanku itu sudah terasa sejak kami masih kecil. Waktu itu, aku begitu heran dan mengecam orang dewasa yang kebanyakan selalu bertingkah tidak dewasa terhadapku. Masa iya, di depanku mereka mengatakan sesuatu yang tidak mengenakkan tentangku dan jelas-jelas terdengar di telingaku? Huh, dikiranya kalau anak kecil itu tidak mengerti bahasa manusia apa?
Mau tahu contonya? Ini nih… “Aduh… adiknya kok nggak secantik kakakknya ya?!”
Huh, padahal aku pun nggak jelek-jelek banget kok! Kalau sudah begitu, rasa hormatku kepada mereka, orang yang seharusnya aku hormati itu langsung hilang. Dengan melotot, aku tunjukkan rasa ketidaksukaanku atas ucapan mereka yang bagiku sangat tidak bertanggungjawab! Dan jika sudah begitu, biasanya cara tersebut ampuh untuk membuat mereka jadi salah tingkah. Biar saja, memang dikiranya anak kecil itu tidak punya kuping dan perasaan apa?!
Bila aku sudah berada dalam kondisi marah seperti itu, Kak Victoria kemudian akan datang mendekatiku, memelukku, dan mengajakku pergi dari hadapan mereka. Pokoknya, dialah sesungguhnya dewi untukku!
Ya, Kak Victoria memang selalu terlihat sempurna. Entah itu di depan kami sekeluarga, di depan semua orang, juga di depanku yang terkadang sering jelas terlihat menampakkan rasa iri terhadapnya.
Dari fisik saja, semua orang memang mengakui kalau ia nampak lebih cantik jika dibandingkan aku yang meskipun juga tergolong tidak jelek. Di sekolah, semua guru mengenalnya sebagai murid yang pintar. Memang, ia tidak selalu berada di peringkat pertama. Tapi paling tidak, peringkat lima besar selalu dipegangnya.
Di kalangan perumahan tempat kami tinggal, ia dikenal sebagai anak yang santun. Sampai-sampai, Kak Victoria selalu jadi idola dan pujaan pada ibu hamil di perumahanku!
Atau buat mereka yang memiliki anak cewek, pasti selalu sering dinasehati dengan perkataan seperti ini, “Tuh, contoh Victoria. Kok kamu nggak bisa sih seperti dia?”
Ah, kadang aku berpikir sungguh kasihan sekali para orangtua itu yang kecewa terhadap anaknya. Dan tentunya sungguh beruntung lah orangtuaku yang anaknya selalu jadi kebanggaan orang lain.
Di kalangan wartawan di Batam, Kak Victoria selalu dikenal sebagai model yang rendah hati, tidak sombong, dan pintar dalam bergaya atau kala diwawancarai. Konon katanya, tidak seperti model lokal kebanyakan di Batam yang sudah merasa duluan menjadi bintang padahal belum apa-apa! Jadinya wartawan pun senang bekerja sama dengannya untuk sesi pemotretan atau untuk dimintai opininya tentang sesuatu hal yang berkaitan dengan dunia anak muda.
Prestasi Kak Victoria juga banyak di bidang lain. Di bidang olahraga, dia selalu masuk tim basket sekolah kami. Kak Victoria sering diutus sekolah untuk ikut pertandingan bulutangkis sampai renang.
Belum lagi di dunia catwalk. Meskipun nggak lahir dari sebuah agency model, kakakku selalu jadi favorit para juri sampai akhirnya bisa menang di kompetisi modelling apa saja. Para agency model yang ada di Batam pun sampai berebut meminta Kak Victoria untuk ikutan bergabung. Yah, apalagi kalau bukan alasannya agar agency model milik mereka jadi terkenal. Untung Kak Victoria selalu berkata tidak.
Lihatlah, begitu sempurnanya kakakku. Multi talent! Tidak seperti diriku yang cuma bisa bikin komik dan hanya bikin komik saja. Padahal, Papa selalu adil untuk sama-sama mengikutsertakan kami berdua mengikuti kursus di bidang yang sama. Tapi ya itulah yang sekali lagi terjadi, kakakku bisa menjadi bintang, dan itu tidak secemerlang terjadi padaku!
Dan sekarang yang sedang terjadi di luar, ada seorang wartawan dari sebuah media di Batam ini yang sedang mewawancarai Kak Victoria. Itu karena baru-baru ini Kak Victoria terpilih sebagai finalis paling berbakat di sebuah majalah yang ada di Jakarta. Yah, siapa sih yang nggak bangga dapat prestasi seperti itu? Apa lagi yang namanya anak daerah, jarang ada yang bisa berprestasi sampai nasional.
“Angela… Angela… buka pintunya dong. Mas Ery minta kita untuk foto bareng nih. Angela…” Di luar sana Mama memanggil-manggil memintaku untuk keluar. Ah, biarkan saja! Mau namaku masuk koran atau nggak, aku tidak peduli! Toh kalaupun masuk, yang dielu-elukan pastinya nama Kak Victoria melulu. Dan aku, hanya akan jadi si pecundang yang hanya menjadi pembanding atau pelengkap saja.
“Angela… Angela…” Mama ternyata masih belum menyerah. “Sayang, dia mau wawancara kamu juga nih. Ayo dong, keluar dari kamar…”
Sunyi untuk beberapa saat. Ternyata usaha Mama untuk memintaku keluar tidaklah lama. Ah, sudahlah. Lebih bak aku tidur dan melupakan kekesalan hatiku ini untuk sejenak.
**
Tak terasa, tidurku ternyata sudah cukup lama. Rasa segar di pikiran membuat aku sadar bahwa tuntutan perutku yang sebetulnya sudah sedari tadi menjerit untuk ingin diisi, membuatku beranjak untuk keluar kamar.
“Angela, tadi kenapa kamu tidak mau keluar waktu Mama memanggil?” sapa Victoria yang kemudian terkejut demi melihat wajah pucatku yang sebetulnya terlihat seperti orang sakit karena mataku yang sembab akibat menangis.
“Astaga, kamu sakit?” Victoria terkejut setelah menyadari apa yang terlihat dari ekspresi pucat wajahku.
“Oh, eh, nggak kok Kak. Aku cuma uhm, iya nih, kayaknya agak nggak enak badan,” aku mencoba mengaku seadanya.
“Yah, sebetulnya sayang lho tadi kamu nggak keluar. Sebetulnya tadi Mas Ery ingin ngobrol dengan kamu juga. Ceritanya, dia baru tahu kalau kamu punya bakat corat coret komik. Kebetulan, dia punya informasi kalau di korannya, sedang butuh kartunis untuk mengisi kolom itu secara tetap. Honornya sih, konon katanya lumayan juga! Sudah begitu, dia ternyata juga punya informasi kalau hobimu itu sekarang sedang prospek lho untuk ditekuni. Pokoknya, Mas Ery ingin banget bisa ngobrol sama kamu tuh,” celoteh Kak Victoria panjang.
Aku langsung tertegun. Tidak hanya karena informasi berharga yang telah aku lewatkan, tetapi karena aku merasa begitu kerdil dalam berpikir. Ketika aku merasa tidak berarti, orang lain justru mampu memandang sisi lebih dari diriku sendiri. Belum lagi kekerdilan pikiranku karena ternyata, Kak Victoria memang selalu begitu baik dan perhatian terhadapku. Ah, kesadaran singkat yang datang begitu cepat tapi akankah ini terlambat?
“Kak,” panggilku, “Kakak pernah nggak sih merasa malu memiliki adik seperti aku?”
Kak Victoria malah menatapku kebingungan. “Kenapa aku harus malu? Apa yang membuat aku merasa malu?”
“Yah, karena adikmu ini tidak bisa menjadi bintang yang terang seperti dirimu.”
Kak Victoria justru merangkul bahuku. “Karena kamu itu sebetulnya punya sesuatu kok yang bisa dibanggakan. Kalau kamu tidak punya kemampuan apapun, barulah aku mungkin malu. Tetapi, kamu punya beberapa kelebihan. Kamu pintar membuat komik, teman-temanmu banyak dan kamu terkenal sebagai anak yang supel, kamu cantik, yah… meski nggak secantik aku sih!” kelakar Kak Victoria.
Akhirnya aku justru tersenyum mendengarnya. Yah, jika orang lain bisa melihat kelebihan dari diri kita sendiri, kenapa kita sendiri yang malah tidak bisa? Kalau orang lain bisa bangga untuk kita, kenapa kita yang malah harus minder? Seketika rasa nyaman menjalar alam tubuhku. Yah, aku bisa juga kok membuat Mama, Papa, dan juga Kak Victoria bisa bangga terhadapku
